MENYONTEK ALA SISWA, SEBUAH KEBIASAAN YANG DAPAT DIHILANGKAN
Siswa adalah agen pengubah bangsa. Kalimat inilah yang sering kita dengar atau terlontar dari bibir masyarakat kita. mungkin tidak semua orang bisa merasakan yang namanya siswa, namun tidak dapat diingkari bahwa Siswa sebagai pemuda telah membentuk negeri ini sedemikian kuat, baik ketika ia menjadi Siswa ataupun pasca Siswa. setidaknya kita menyepakati bahwa negara ini terlahir dari para pemuda, dan pemuda yang diharapkan ini akan mengacu pada “Siswa” yang dipandang sebagai kaum intelektual dan idealis. Akan tetapi, wacana ini akan bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Siswa yang diharapkan mampu menunjukkan keidealisan dan keintelektualannya justru menunjukkan sikap yang sangat mengecewakan yaitu kebiasaan menyontek. Sudah bukan rahasia umum lagi jika kebiasaan ini dianggap sebagai solusi permasalahan atau bahkan sebagai kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Analisis berikut membahas tentang alasan mengapa Siswa menyontek, dampak buruk menyontek, serta ditawarkan pula beberapa solusi yang dapat dijadikan jalan keluar untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi permasalahan kompleks ini.
Penyebab Masalah
Kebiasaan menyontek terlahir dari diri individu itu sendiri. Demikian halnya pada kalangan Siswa yang terkadang tidak mampu “mengelak” dari kebiasaan buruk ini. Tentunya, akan ada banyak hal yang dijadikan alasan ketika seseorang melakukan kegiatan ini. Setidaknya ada tiga alasan yang biasanya dijadikan “kambing hitam” ketika seorang Siswa ditanyakan mengapa ia menyontek.
Penyebab pertama, masalah ketidakpercayaan diri. Rasa tidak percaya diri terkadang tidak disadari. Hal ini disebabkan rasa percaya diri identik dengan kemampuan seseorang untuk “berani unjuk gigi” di forum. Padahal, sebenarnya ketidakpercayaan diri ini mengacu pada karakter diri seseorang yang tidak yakin terhadap apa yang telah dilakukan. Demikian halnya ketika seorang Siswa melakukan kegiatan menyontek, sebenarnya telah menunjukkan bahwa ia tidak yakin dengan apa yang telah dikerjakan. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan karakter Siswa yang dipandang sebagai kaum intelektual yang memiliki kepercayaan diri dan keidealismeaan yang tinggi.
Kedua, Siswa cenderung menganggap bahwa kegiatan menyontek adalah suatu kebiasaan yang sulit dihilangkan. Kebiasaan ini seolah-olah sebuah rutinitas yang biasa dilakukan. Menyontek bak nasi yang kebiasaan makan yang biasa pula dilakukan. Jadi, seolah-olah jika tidak menyontek, akan menyebabkan sebuah dampak yang begitu besar yaitu kegagalan seperti halnya makan yang jika tidak kita lakukan akan menimbulkan kelaparan atau bahkan kematian.
Penyebab ketiga adalah alasan yang paling sering dan secara sadar dilakukan yaitu tidak belajar. Alasan ini jelas merupakan hal yang masuk akal karena jika seseorang tidak belajar, dapat dipastikan ia tidak siap mengikuti ujian saat itu. Ketidaksiapan ini sebenarnya bukan suatu masalah jika sebelum-sebelumnya sudah diantisipasi solusinya. Masalah antisipasi dan tidak belajar sebenarnya sudah tidak layak lagi jika dimiliki oleh seorang mahsiswa. Hal ini disebabkan Siswa merupakan kaum yang berpendirian dan berpendidikan tinggi tentu memiliki pemikiran yang cerdas untuk menghadapi permasalahan antisipasi ini.
Dampak negatif menyontek
Menyontek secara umum telah melahirkan tiga dampak bagi Siswa. Pertama dampak moral. Seorang Siswa yang terbiasa melakukan kegiatan menyontek sebenarnya telah menunjukkkan etika buruknya di mata masyarakat. Dampak moral ini akan menjalar pada tindak lanjut kehidupannya setelah selesai kuliah. Kaitan menyontek ini mengacu pada masalah kejujuran seseorang. Seorang Siswa yang terbiasa jujur akan menunjukkan pada cara belajarnya maunpun setelah ia tamat. Hal ini dapat dibuktikan misalnya dari seorang calon guru ataupun pegawai lainnya yang selayaknya memberikan yang terbaik untuk bangsanya justru mengajarkan sebuah ketidakjujuran kepada negara yang seharusnya dicintainya.
Kedua, dampak intelektual. Seorang Siswa yang cerdas tentu tidak akan menggunakan cara menyontek untuk mengatasi masalahnya. Kaitannya dengan intelektual adalah pertanggungjawabannya di lapangan. Misalnya, seorang Siswa yang mendapatkan nilai yang sangat baik tetapi diperoleh dengan cara menyontek tentu ia tidak akan dapat membuktikannya di lapangan kecuali dengan membawa buku seperti halnya ketika ujian yang dilakukan dengan cara membuka buku sebagai ciri khas kegiatan menyontek. Hal ini secara langsung telah menciptakan sebuah generasi tidak percaya diri, bahkan untuk menjawab permasalahan di masyarakatpun harus menyontek dari buku.
Ketiga, dampak emosional. Dampak ini mengacu pada perasaaan yang akhirnya dimunculkan karena kebiasaan menyontek. Seorang yang terbiasa menyontek cenderung akan menganggap bahwa setiap masalah itu mudah dan salahnya lagi cara yang dipergunakan justru cara yang sangat salah yaitu menyontek. Secara emosional, perasaan ini sangat tidak baik karena akan mengajarkan pada sebuah daftar panjang “penghianatan terselubung” terhadap negeri ini.
Solusi Masalah
Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Demikian halnya dengan masalah menyontek di kalangan Siswa. Sebenarnya kata kunci dari masalah ini adalah niat. Ketika dalam hati telah diikrarkan untuk tidak menyontek tentu akan menguatkan langkah untuk mengaplikasikannya. Akan tetapi, ternyata dalam pelaksanannya kebiasaan ini dianggap sangat sulit, terutama bagi merteka yang telah kecanduan terhadap budaya menyontek. Walaupun demikian, setidaknya ada tiga solusi yang dapat dijadikan sebagai jaeaban terhadap masalh yang sangat pelik ini.
Pertama, tumbuhkan kepercayaan yang tinggi terhadap diri sendiri. Sebagai Siswa yang memiliki kecerdasan yang tinggi terutama pada Siswa di PTN yang untuk memasukinya diperlukan seleksi yang panjang tentu akan memiliki kebanggaan karena telah masuk di dalamnya. Demikian halnya dengan Siswa di PTS yang tetap dipandang sebagai kaum yang intelektual di kalangan masyarakat tentu tidak akan begitu saja menggunakan kepercayaan diri ini sebagai salah satu alasan bahwa seharusnya kita malu melakukan perbuatan menyontek ini.
Kedua, memperbaiki istilah “kebiasaan yang sulit dihilangkan”. Setelah kita ketahui bahwa menyontek adalah perbuatan yang dapat membawa dampak buruk baik dampak jangka pendek maupun jangka panjang tentu kita akn merasa ngeri untuk melakukannya. Jika kita menyadarinya, sebenarnya menyontek adalah candu yang memabukkan. Seperti halnya narkoba, jika kita sudah mengetahui dampak negatifnya tentu kita akan merasa tidak nyaman untuk melakukannya.
Ketiga, memperbaiki cara belajar. Seperti telah disampaikan pada bagian sebelumnya bahwa alasan yang paling lazim disampaikan bahwa tidak belajar ketika ujian tiba. Hal ini terkait dengan pola kuno yaitu belajar hanya dengan membaca untuk memperkuat daya ingat terhadap materi yang diujiankan. Tentu hal ini adalah sebuah ketidaktepatan argumen. Untuk mempertajam daya ingat kita terhadap materi tidak harus dengan hanya membaca saja. Seperti yang disampaikan oleh Collin Rose dan Malcolm J Nichol dalam Accelerated Learning for 21 st Century, ingatan seseorang terhadap ssuatu yang telah dipelajarinya berasal dari 20 % dari yang didengarnya, 30 % dari yang dibacanya, 40 % dari yang dilihat dalam prosesny, 60 % dari yang dikatakannya, 90 % yang dari dilihat, didengar,dikatakan dan dikerjakannya. Dari hasil penelitian tersebut, selayaknya jika kita merubah paradigma terhadap cara belajar dengan cara menkombinasikan dari keempat kegiatan pembelajaran tersebut.
Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa kebiasaan menyontek adalah sebuah budaya yang diangggap tidak mudah untuk dihilangkan. Dengan berbagai penyebabnya telah menunjukkan bahwa menyontek merupakan kebiasaan yang sangat salah jika dijadikan sebagai sebuah budaya. Apalagi jika kita telah mengetahui berbagai dampak negatifnya yang ternyata tidak hanya merugikan diri sendiri akan tetapi dapat membawa dampak yang lebih besar yaitu kehancuran bangsa ini. Berberapa solusi tentu dapat dijadikan sebagai jalan keluar dari permasalahan ini. Lazimnya seorang Siswa yang dianggap sebagai penjawab masalah bangsa tentu tidak akan begitu sulit menghadapi permasalahan pribadi misalnya kebiasaan menyontek ini. Dengan niat yang ikhlas dan diikuti dengan upaya konkret yang tidak hanya terbersit dari hati ataupun terucap dengan lisan melainkan pula dibuktikan dengan perbuatan, tentu kebiasaan menyontek ini akan dengan mudah dihilangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar